Kalau Mesir Punya Padang Pasir, Bantul Punya Padang Batu

Posted on

padang kerikil di bantul (Pradito Rida Pertana/detikcom)

Bantul – Ada pemandangan menarik di Bantul tatkala air sungai menyusut. Sungainya menjadi padang batu, dan malah jadi spot foto kekinian. Seperti apa ya?

Musim kemarau yang tiba lebih awal menciptakan debit air di fatwa Sungai Oya, Dusun Jetis, Desa Selopamioro, Kecamatan Imogiri, Bantul menyusut drastis. Bahkan, susutnya debit air menciptakan Sungai itu bermetamorfosis padang batu.

Pemandangan yang hanya sanggup dinikmati dikala isu terkini kemarau ini menciptakan warga sekitar memanfaatkannya sebagai spot foto yang instagramable.

Untuk mencapai spot foto unik tersebut, pengunjung hanya perlu menuju Kecamatan Imogiri. Sesampainya di Imogiri, pengunjung diharap mengambil jalur menuju Desa Selopamioro.

Kalau Mesir Punya Padang Pasir, Bantul Punya Padang Batu(Pradito Rida Pertana/detikcom)

Menyusuri jalur tersebut, pengunjung akan menemukan simpang tiga yang berada di bersahabat Sekolah Menengah Pertama N 3 Imogiri. Selanjutnya, pengunjung hanya perlu berbelok kiri dari simpang 3 tersebut, dan menyusuri jalan aspal hingga menemukan Sungai Oya.

Berjalan beberapa menit, nantinya pengunjung akan menemukan sebuah jembatan bambu di kiri jalan. Jembatan itu ialah jalur menuju padang kerikil di Sungai Oya, tak hanya itu, di tengah padang kerikil itu terdapat replika tugu pal putih dan sebuah kolam air berisi ikan nila.

Salah seorang pengelola, Riza Marzuki mengatakan, bahwa padang kerikil ini selalu terbentuk dikala isu terkini kemarau. Namun, untuk tahun ini padang kerikil tersebut muncul di Dusun Jetis, Desa Selopamioro, Kecamatan Imogiri, Bantul.

“Bentuk padang kerikil ini berubah-ubah, sanggup berada di sebelah selatan dan utara. Nhah, (karena isu terkini kemarau) tahun ini berada di selatan (Dusun Jetis),” ucapnya dikala ditemui detikcom di padang kerikil Sungai Oya, Dusun Jetis, Desa Selopamioro, Kecamatan Imogiri, Bantul, Minggu (21/7/2019).

Kalau Mesir Punya Padang Pasir, Bantul Punya Padang Batu(Pradito Rida Pertana/detikcom)

Melihat banyaknya bebatuan putih yang memenuhi sebagian besar fatwa Sungai Oya, Riza kemudian mulai mulai mengajak warga setempat untuk mengembangkannya sebagai kawasan wisata. Mengingat beberapa orang pernah tiba ke padang kerikil untuk melaksanakan foto prewedding.

“Karena itu kami mulai membangun jembatan bambu, menghias padang kerikil dengan replika Tugu Pal Putih dari materi kayu dan tripleks sebagai daya tarik spot foto,” kata Riza.

Selain itu, pengembangan padang kerikil Sungai Oya ini juga untuk meningkatkan perekonomian warga, serta yang terpenting mengurangi penambangan kerikil di Sungai tersebut.

“Pengembangan ini (padang batu) juga untuk mengurangi penambangan kerikil secara manual oleh warga, alasannya ialah kerikil warna putih ini laris dijual untuk kebutuhan taman. Dan Alhamdulillah sesudah dibentuk ibarat ini yang menambang kerikil mulai berkurang,” ujarnya.

“Dan untuk mengganti kebiasaan penambangan batu, kami ajak warga memelihara ikan nila di cekungan-cekungan berisi air. Nanti jikalau masuk isu terkini hujan gres dipanen,” sambung Riza.

BACA JUGA: Inilah ‘Gurun Sahara’ di NTT

Terkait biaya untuk berfoto-foto di spot tersebut, Riza mengaku tidak mematok biaya khusus. Hal itu alasannya ialah spot foto unik tersebut masih baru, bahkan belum ada nama khusus untuk lokasi spot tersebut.

“Kalau mau foto-foto silakan, tidak dikenakan biaya. Tapi jikalau parkir, per motor dikenai tarif Rp 2.000 dan untuk kendaraan beroda empat Rp 5.000”, tuturnya.

Kalau Mesir Punya Padang Pasir, Bantul Punya Padang Batu(Pradito Rida Pertana/detikcom)

Riza menuturkan, apabila pengunjung lelah dan ingin beristirahat sanggup mengunjungi kedai Via Ferrata yang sempurna berada di pinggir Sungai Oya. Di kedai tersebut menyediakan bermacam-macam makanan ibarat nasi kucing, gorengan, pisang bakar dan roti bakar. Sedangkan untuk minuman antara lain, teh poci, kopi, susu dan aneka minuman lainnya.

“Untuk kedai sendiri buka dari jam 4 sore hingga jam 11 malam jikalau hari biasa, jikalau weekend hingga jam 12,” katanya.

Lanjut Riza, dikala ini ia bersama rekan-rekannya tengah menyiapkan wahana minat khusus di Desa Selopamioro. Di mana wahana tersebut berada sempurna di samping kedai Via Ferrata.

“Jadi kedai ini aslinya berfungsi juga untuk kawasan transit wahana Via Ferrata, alasannya ialah itu namanya kedai Via Ferrata,” ujarnya.

“Karena di tebing kerikil ini (tepat di samping kedai) akan dipakai sebagai wahana kawasan panjat tebing dengan besi tanam, atau yang lebih dikenal dengan Via Ferrata. Ini (Via Ferrata) gres pertama kali ada di Jogja, dan keenam di Indonesia,” katanya.

Simak Video “Pangkas Pohon, Warga Bantul Tewas Tersengat Listrik
[Gambas:Video 20detik]


Sumber detik.com

CV Riffa Transport
Kantor : 0274497673
Tsel : 08112521777
Alamat: Jl Prambanan – Piyungan KM 5 Madurejo Prambanan Sleman Yogyakarta 55572